HumasDPRD – Pemerintah Provinsi Jawa Barat diharapkan memberi perhatian khusus kepada Kota Bandung, terutama soal bantuan anggaran. Jika tidak didukung pembangunan secara simultan, tahun depan Kota Bandung akan dihadapkan dengan persoalan baru, khususnya kemacetan.
Hal itu diungkapkan Ketua DPRD Kota Bandung, Tedy Rusmawan, seusai mengikuti agenda Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat tahun 2022 secara virtual, di Gedung DPRD Kota Bandung, Senin (12/4/2021).
“Kota Bandung banyak support provinsi karena kita harus mendukung program nasional. Tahun depan ada operasional kereta api cepat dan Tol Cisumdawu. Maka, mobilitas ke Bandung akan meningkat. Jika Bandung tidak siap, dikhawatirkan ada efek timbulan yang membuat ketidaknyamanan bagi warga,” tuturnya.
Tedy berharap Kota Bandung telah siap jika Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) dan Tol Cisumdawu sudah beroperasi. Jika kedua proyek nasional itu telah dibuka, maka dipastikan Bandung bakal semakin ramai.
Dari skema yang telah dirancang, kata Tedy, pengguna kereta cepat akan diarahkan menggunakan kereta api dari Stasiun Tegalluar ke Stasiun Bandung. Kereta api penghubung itu akan menambah frekuensi lalu lintas kereta yang melewati pintu perlintasan sebidang di sepanjang ruas jalan kota menuju Stasiun Bandung.
Dengan demikian, jadwal buka-tutup pintu perlintasan diprediksi akan menambah hambatan kendaraan yang harus menyeberang rel kereta, mulai dari Jalan Laswi hingga Jalan Braga.
“Idealnya kan Bandung sudah memiliki jalur kereta dengan fondasi melayang. Tetapi kan itu proyek nasional. Cuma Jakarta dan Medan yang sudah punya jalur kereta elevated. Makanya, kita sangat berharap bantuan Pemprov Jabar,” ujar Tedy.
Begitu pula dengan rencana dibukanya Tol Cisumdawu. Di satu sisi, percepatan mobilitas memudahkan perjalanan dari atau menuju Bandung.
Sisi positifnya, akan semakin banyak wisatawan berbelanja di Bandung. Namun, kata Tedy, efek sampingnya adalah Bandung masih kewalahan menampung kendaraan yang masuk dari Tol Pasteur, terutama wisatawan dari Jabodetabek.
Oleh karena itu, Kota Bandung kembali mengajukan sejumlah proyek jalan layang melalui Bantuan Provinsi Jawa Barat. Target yang telah diusulkan yakni Flyover Laswi, Pajajaran, dan Garuda-Abdurahman Saleh.
Selain infrastruktur jalan layang, Kota Bandung juga mengajukan Bantuan Provinsi untuk revitalisasi sejumlah taman, termasuk kelanjutan penataan Taman Tegallega.
Di bidang perumahan, bantuan anggaran diusulkan untuk pembangunan rumah susun Rancacili dan dukungan anggaran penyelesaian Rumah Deret Tamansari.
Untuk menanggulangi masalah banjir, Kota Bandung memohon dukungan anggaran untuk sejumlah pembangunan drainase pengendali banjir. Sederet proyek itu di antaranya, kolam retensi Citalaga Pasir, di Kecamatan Sukasari dan kolam retensi Cisanggarung, Pasirimpun, Kecamatan Mandalajati, serta penyelesaian pengendalian banjir di Sungai Citepus.
Dengan pendapatan yang menurun akibat dampak dari pandemi, Kota Bandung kesulitan untuk membiayai sejumlah proyek infrastruktur. Sejak tahun lalu, anggaran Kota Bandung dipangkas agar bisa fokus menangani multiefek dari tekanan pandemi.
“Setelah pandemi, anggaran Kota Bandung segala terbatas. Jadi, Kota Bandung kesulitan membangun karena pendapatan menurun cukup banyak. Banprov ini akan sangat berarti untuk mengejar ketertinggalan. Kota Bandung berharap Provinsi Jawa Barat menambah alokasi bantuan anggaran, spesial untuk ibu kota provinsi,” tuturnya.* (Fikri)