HumasDPRD - Wakil Ketua III DPRD Kota Bandung, Dr. H. Edwin Senjaya, SE., M.M., menjadi narasumber pada kegiatan Korps HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Wati Cabang Bandung dengan tema "Kepemimpinan Perempuan Dalam Sektor Publik dan Privat Dalam Perspektif Laki-Laki," di Aula Gedung Diklat BKPSDM Bandung Barat, Jumat (21/1/2022).
Pada kesempatan itu, Edwin menyampaikan bahwa wanita memiliki kedudukan, tugas, dan fungsi yang sangat mulia. Selain sebagai seorang Istri dan Ibu yang berjuang serta mengabdi di ruang privat, wanita juga bisa menjalankan tugas dan aktifitas di ruang publik.
Kiprah itu bisa dijalani asalkan sesuai dengan tuntunan agama sebagai seorang muslimah dan tidak melupakan kewajibannya serta kodratnya kepada keluarga.
Menurut Edwin, agar mampu menjadi seorang wanita aktif yang terbaik, wanita muslimah harus ditopang serta memiliki beberapa kriteria, yaitu memiliki salimul aqidah (aqidah yang bersih dan lurus), sohihul 'ibadah (beribadah yang benar sesuai tuntunan), matinul khuluk (akhlak yang kokoh/mulia), qowiyyul jismi (kesehatan jasmani), dan musaqqoful fikri/kecerdasan intelektualitas.
"Kualitas ilmu maupun pendidikan itu penting, jadi tidak hanya laki-laki saja yang harus sekolah tinggi, jangan sesekali melupakan dan malas mencari ilmu dan untuk mendapatkan pendidikan akademis yang lebih tinggi, karena dengan perempuan yang berkualitas akan melahirkan generasi-generasi berikutnya yang berkualitas," ucapnya.
Edwin pun menyampaikan sebuah ungkapan, "Wanita adalah madrasah pertama bagi anaknya" sehingga kualitas seorang ibu sangat berperan besar bagi kualitas dan masa depan anak-anaknya.
Edwin pun berharap perempuan muslimah Indonesia bisa aktif menduduki jabatan atau posisi-posisi yang terbaik misal di legislatif, eksekutif, ataupun berkarir di sektor lainnya, yang terpenting tidak melupakan kodratnya sebagai perempuan.
"Selama perempuan muslimah itu mampu maka perempuan dapat menjadi pemimpin, dan melaksanakan amar ma'ruf nahi mungkar, karena tidak ada larangan bagi perempuan untuk menduduki pekerjaan apapun selama masih dalam koridor syari'at dan batasan-batasannya," katanya.
Edwin juga memberikan contoh wanita-wanita muslimah pejuang dari tanah air, yang telah memberikan darma baktinya kepada ibu pertiwi dalam memperjuangkan kemerdekaan, seperti Laksamana Keumalahayati dari Aceh, Ibunda Rasuna Said dari Sumatera Barat, dan Ibu R. Dewi Sartika dari Jawa Barat.
“Wanita adalah tiang negara. Jika baik wanitanya, maka baiklah negaranya, dan jika rusak wanitanya rusaklah juga negaranya,” tutur Edwin.* (Jaja)